Sobat Permata apakah pernah merasa kurang percaya diri saat berbicara karena khawatir napas tidak segar? Atau mungkin orang terdekat pernah menegur karena bau mulut yang mengganggu? Jika iya, bisa jadi Sobat Permata mengalami halitosis atau yang lebih dikenal dengan istilah bau mulut.
Istilah halitosis berasal dari bahasa Latin, halitus yang berarti nafas dan akhiran osis berasal dari bahasa Yunani yang berarti keadaan tidak normal. Halitosis dapat diartikan sebagai kondisi keluarnya aroma tidak sedap dari rongga mulut yang dapat dialami oleh siapa saja.
Klasifikasi Halitosis dan Penyebabnya
Halitosis dibagi menjadi tiga, antara lain:
- Genuine Halitosis atau juga disebut dengan halitosis sejati. Halitosis tipe ini dibedakan menjadi halitosis fisiologi dan juga halitosis patologis.
- Halitosis fisiologi dapat disebabkan karena konsumsi makanan yang berbau kuat seperti petai, jengkol, durian, dan lainnya serta karena adanya penurunan produksi saliva atau air liur saat tidur sehingga menyebabkan bau mulut kurang sedap saat bangun tidur (morning breath). Halitosis ini dapat dihilangkan dengan menyikat gigi dan lidah.
- Halitosis patologis merupakan halitosis yang disebabkan oleh faktor dari dalam mulut (intra oral) dan juga faktor luar mulut (ekstra oral). Penyebab halitosis patologis intra oral seperti:
- Penumpukan plak dan karang gigi
- Gigi berlubang
- Perikoronitis
- Hiposalivasi (air liur sedikit)
- Peradangan jaringan gusi dan pendukungnya
- Gigi palsu yang tidak dirawat dengan baik
Sedangkan untuk halitosis patologis ekstra oral dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit tertentu seperti:
- Diabetes melitus
- Gagal ginjal
- Penyakit saluran napas atas (sinusitis, tonsillitis)
- Penyakit saluran napas atas (bronchitis, abses paru, kanker paru)
- Penyakit saluran cerna
- Rokok dan alkohol
Pada kasus halitosis patologis intra oral diperlukan eliminasi dari faktor penyebab seperti penambalan gigi, pembersihan karang gigi , pencabutan gigi, perawatan gigi palsu yang baik serta kontrol rutin ke dokter gigi minimal 2 kali dalam setahun. Sedangkan untuk kasus halitosis patologis ektra oral perlu observasi dan konsultasi terkait dengan penyakit sistemik yang menjadi faktor risiko ataupun penyebab dengan dokter spesialis, juga dapat menghilangkan kebiasaan merokok dan minum alcohol.
- Pseudo halitosis merupakan kondisi ketika seseorang merasa mempunyai bau mulut namun sebenarnya tidak. Hal ini dapat diatasi dengan konsultasi dan juga prosedur pembersihan rongga mulut oleh dokter gigi
- Halitophobia merupakan kondisi ketika seseorang sudah dilakukan pemeriksaan dan prosedur pembersihan rongga mulut namun masih merasa mulutnya bau.
Lalu, bagaimana cara mencegah dan mengatasinya?
Langkah paling sederhana adalah menjaga kebersihan gigi dan mulut secara rutin. Menyikat gigi minimal dua kali sehari, terutama 30 menit setelah sarapan dan sebelum tidur, sangat dianjurkan untuk mengurangi penumpukan bakteri penyebab bau mulut. Selain itu, membersihkan sela-sela gigi menggunakan dental floss serta membersihkan permukaan lidah juga penting karena banyak bakteri penyebab bau mulut bersembunyi di area tersebut.
Konsumsi air putih yang cukup juga membantu menjaga kelembapan rongga mulut dan mengurangi kondisi mulut kering yang dapat memperparah bau mulut. Bagi pengguna gigi palsu atau behel, perawatan dan kebersihan alat tersebut juga harus diperhatikan agar tidak menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Apabila bau mulut tidak kunjung membaik meskipun kebersihan mulut sudah dijaga dengan baik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter gigi. Pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali sangat dianjurkan untuk melakukan pembersihan karang gigi (scaling), mendeteksi gigi berlubang, maupun menangani masalah kesehatan gigi dan mulut lainnya sebelum menjadi lebih serius.
Ingat, Sobat Permata, napas segar bukan hanya soal rasa percaya diri, tetapi juga merupakan cerminan kesehatan gigi dan mulut yang baik. Jadi, jangan tunggu sampai bau mulut mengganggu aktivitas dan kualitas hidup Anda. Mulailah menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini, periksakan gigi dan mulutmu ke dokter gigi di RS Permata Keluarga Karawang sekarang, karena senyum sehat berawal dari mulut yang sehat dan bersih.
DAFTAR PUSTAKA
- Camila D, Erawati S, Soraya N, Locmandra T. Pengaruh perilaku dan tingkat pengetahuan tentang kebersihan gigi mulut terhadap terjadinya halitosis pada mahasiswa. Prima Journal of Oral and Dental Sciences. 2020;3(2):44-49.
- Ratmini NK. Bau mulut (halitosis). Jurnal Kesehatan Gigi. 2017;5(1)
- Komala LN. Keterkaitan antara halitosis dengan bakteri penyebab periodontitis. Jurnal Kedokteran Gigi. 2023;5(1):236-238
- Kumbargere Nagraj S, Eachempati P, Uma E, Singh VP, Ismail NM, Varghese E. Interventions for managing halitosis. Cochrane Database Syst Rev. 2019;2019(12):CD012213