Kulit yang terasa gatal, kemerahan, muncul ruam, atau bahkan melepuh sering kali dianggap masalah ringan. Padahal, kondisi tersebut bisa merupakan tanda dermatitis, yaitu peradangan pada kulit yang memerlukan penanganan yang tepat.
Dermatitis merupakan salah satu kasus tersering dalam praktik dermatologi dan dapat menyerang semua usia — mulai dari bayi hingga lansia.
Apa Itu Dermatitis?
Dermatitis adalah istilah medis untuk peradangan kulit yang ditandai dengan:
- Eritema (kemerahan)
- Pruritus (gatal)
- Papul (bintil)
- Vesikel (gelembung kecil berisi cairan)
- Skuama (kulit bersisik)
- Likenifikasi (penebalan kulit akibat garukan kronis)
Dermatitis bukan penyakit menular, namun dapat bersifat akut (mendadak), subakut, maupun kronis (menahun).
Jenis-Jenis Dermatitis yang Paling Sering Terjadi
Menurut pedoman PERDOSKI 2024, beberapa jenis dermatitis yang sering ditemukan antara lain:
- Dermatitis Atopik (DA)
Disebut juga eksim, merupakan peradangan kulit kronis yang sering terjadi pada anak-anak dan memiliki hubungan dengan riwayat atopi seperti asma atau rhinitis alergi.
Ciri khas:
- Gatal dapat sangat berat sehingga menganggu tidur
- Kulit kering (xerosis)
- Ruam di lipatan siku, lutut, leher
- Sering kambuh (kronis berulang)
Faktor risiko:
- Riwayat atopi dalam keluarga (contohnya asma atau rhinitis alergi)
- Gangguan fungsi skin barrier
- Faktor imunologi
- Dermatitis Kontak
Terjadi akibat kontak langsung dengan pajanan bahan iritan.
a. Dermatitis Kontak Iritan (DKI)
Disebabkan oleh bahan iritan seperti:
- Deterjen
- Sabun keras
- Bahan kimia
- Cairan pembersih
Tidak melibatkan mekanisme alergi.
b. Dermatitis Kontak Alergi (DKA)
Disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe IV (delayed hypersensitivity)/ tipe lambat.
Muncul setelah pajanan berulang terhadap alergen seperti:
- Nikel pada perhiasan
- Parfum
- Kosmetik
- Pewarna rambut
Gejala biasanya muncul 24–48 jam setelah kontak.
- Dermatitis Seboroik
Peradangan kronis pada area dengan banyak kelenjar sebasea, seperti:
- Kulit kepala
- Wajah
- Alis
- Lipatan hidung
- Dada atas
Ditandai dengan:
- Eritema
- Skuama berminyak kekuningan
- Kadang disertai rasa gatal
Berhubungan dengan kolonisasi jamur Malassezia sp. dan faktor imun.
- Dermatitis Numularis
Ditandai dengan lesi berbentuk koin (numular) yang gatal dan meradang.
- Dermatitis Stasis
Sering terjadi pada tungkai bawah akibat gangguan sirkulasi vena (insufisiensi vena kronis).
Apa Penyebab Dermatitis?
Dermatitis bersifat multifaktorial, melibatkan:
- Faktor genetik
- Gangguan sistem imun
- Kerusakan skin barrier
- Paparan alergen atau iritan
- Infeksi mikroorganisme
- Stres psikologis
- Faktor lingkungan (cuaca panas, kelembapan rendah)
Gejala Dermatitis yang Perlu Diwaspadai
Gejala dapat berbeda tergantung jenisnya, tetapi umumnya meliputi:
- Gatal (pruritus)
- Kulit kemerahan (eritema)
- Bengkak ringan
- Lepuh kecil (vesikel)
- Kulit bersisik (skuama)
- Penebalan kulit (likenifikasi) pada kondisi kronis
- Retakan atau luka akibat garukan
Jika tidak ditangani, dermatitis dapat mengalami:
- Infeksi sekunder bakteri
- Hiperpigmentasi pasca inflamasi
- Gangguan kualitas hidup
Bagaimana Diagnosis Dermatitis?
Diagnosis ditegakkan melalui:
- Anamnesis (wawancara medis)
- Pemeriksaan fisik dermatologis
- Identifikasi faktor pencetus
Pada kasus dermatitis kontak alergi, dokter dapat melakukan patch test (uji tempel) untuk mengidentifikasi alergen penyebab.
Tata Laksana Dermatitis (Sesuai Pedoman PERDOSKI 2024)
Penanganan dermatitis bersifat individual dan tergantung jenis serta tingkat keparahannya.
- Terapi Non-Farmakologis
- Menghindari faktor pencetus
- Menggunakan sabun ringan (non-soap cleanser)
- Mengaplikasikan pelembap secara rutin
- Menghindari garukan
- Edukasi perawatan kulit
Pelembap merupakan terapi dasar untuk memperbaiki fungsi skin barrier.
- Terapi Farmakologis
- Kortikosteroid Topikal
Merupakan lini utama pada dermatitis inflamasi.
Dipilih berdasarkan:
- Lokasi lesi
- Usia pasien
- Tingkat keparahan
Penggunaan harus sesuai anjuran dokter untuk menghindari efek samping seperti atrofi kulit.
- Inhibitor Kalsineurin Topikal
Seperti tacrolimus atau pimecrolimus, terutama untuk area wajah dan lipatan.
- Antihistamin
Diberikan untuk membantu mengurangi rasa gatal.
- Antibiotik
Jika terdapat infeksi sekunder bakteri.
- Kortikosteroid Sistemik
Digunakan pada kasus berat dan dalam jangka pendek.
Apakah Dermatitis Bisa Sembuh?
Dermatitis bisa dikontrol dengan baik jika:
- Faktor pencetus dihindari
- Terapi dilakukan sesuai anjuran
- Perawatan kulit rutin dilakukan
Beberapa jenis seperti dermatitis atopik bersifat kronis dan kambuhan, tetapi gejala dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup tetap baik.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit jika:
- Ruam semakin luas
- Gatal mengganggu tidur
- Muncul nanah atau tanda infeksi
- Tidak membaik dengan perawatan mandiri
- Terjadi pada bayi atau anak kecil
Penanganan yang tepat sejak awal akan mencegah komplikasi dan kekambuhan berulang.
Kesimpulan
Dermatitis bukan sekadar masalah kulit biasa. Peradangan yang tidak ditangani dengan benar dapat menjadi kronis dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jika Anda atau keluarga mengalami keluhan kulit yang menetap, segera konsultasikan dengan dokter spesialis kulit di rumah sakit kami di RS Permata Keluarga Lippo Cikarang untuk mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat. Kulit sehat adalah investasi jangka panjang bagi kualitas hidup Anda.